Selasa, 14 Oktober 2014

Tugas #Psikologi Manajemen



Nama : Helen Yohana Sirait
NPM : 13512371 
Kelas : 3PA01


Ilustrasi Cara Me-manage Perusahaan Menjadi Terkenal dan Sukses



1.    Perusahaan Mempunyai Visi dan Misi yang Jelas
Visi adalah suatu pandangan atau gambaran jauh ke depan atau tujuan ke depan tentang perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut pada masa yang akan datang. Sedangkan, Misi adalah penyataan tentang apa yang harus dilakukan atau dikerjakan oleh suatu perusahaan untuk mewujudkan Visi. Misi juga akan memberikan arah sekaligus batasan proses pencapain tujuan. Dalam hal pencapaian suatu tujuan diperlukan suatu perencanaan dan tindakan yang nyata untuk dapat mewujudkannya. Visi dan Misi adalah suatu konsep perencanaan yang disertai dengan tindakan sesuai dengan apa yang direncanakan untuk mencapai suatu tujuan. 

2.    Perencanaan yang matang
Sebelum suatu perusahaan berdiri biasanya modal merupakan suatu kendala awal yang harus dipenuhi sebelum perusahaan berjalan. Tidak selamanya modal besar akan memberikan keuntungan besar. Pengelolaan modal yang efektif dan efisien akan memberikan keuntungan yang maksimal. Untuk itu kita harus melakukan perhitungan modal dan biaya yang diperlukan perusahaan dalam jangka waktu beberapa waktu ke depan. Kita harus mampu memberi anggaran yang aman untuk operasional perusahaan dalam beberapa waktu ke depan. Dengan adanya pengamanan anggaran dalam jangka panjang dan melakukan perencanaan dan perancangan perusahaan secara matang maka perusahaan akan siap menghadapi berbagai kendala atau rintangan karena telah diperhitungkan sebelumnya. 

3.    Melakukan Penelitian terlebih dahulu
Dalam membuatu suatu produk maka kita harus melakukan penelitian terlebih dahulu mengenai pasar, konsumen, produk pesaing dan kendala-kendala yang mungkin akan muncul agar produk kita tepat sasaran dan tidak gugur bila terkena berbagai tekanan dan kendala yang muncul.

4.    Membangun Relasi Bisnis yang Saling Menguntungkan
Menjalin hubungan kerjasama dengan sesama pelaku bisnis. Manfaat yang bisa kita dapatkan cukup banyak, mulai dari berbagi ilmu, pengalaman, strategi bisnis, atau bisa juga berupa suntikan tambahan modal untuk mengembangkan bisnis mereka. Tak heran bila sekarang ini hampir setiap pengusaha berlomba-lomba membangun hubungan kerjasama bisnis untuk memperlancar jalannya usaha., membangun Bisnis dari Hobi dan lain-lain.
Beberapa tips sukses membangun hubungan kerjasama bisnis yang bisa kita jalankan dari sekarang.
a.     Bergaul dengan komunitas bisnis
Salah satu cara agar bisa mempunyai banyak relasi yaitu dengan masuk dalam suatu komunitas bisnis yang sesuai dengan bidang kita. Tujuan kita bergabung dalam komunitas bisnis selain memperluas relasi sebenarnya juga bisa menjadi media promosi bagi usaha kita. Semakin banyak bergaul dengan para pengusaha, maka semakin banyak pula ilmu dan pengalaman yang akan kita dapatkan.
b.     Jangan pelit berbagi informasi
Berbagi informasi dengan sesama rekan bisnis bisa memberikan peluang bagi kita untuk memperluas jaringan bisnis dan menumbuhkan kepercayaan dari rekan sesama pebisnis. Dengan saling bertukar informasi, maka akan sama-sama diuntungkan, pengetahuan kita pun juga semakin bertambah.
c.     Jangan aktif hanya saat butuh komunitas bisnis
Bergaul dengan komunitas bisnis tentunya harus kita jaga dalam kondisi apa pun. Jangan hanya dekat saat kita butuh kemudian meninggalkan setelah mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika kita mendapatkan kendala dalam bisnis kita, di forum komunitas inilah kita bisa sharing dan meminta solusi, begitu juga sebaliknya kita juga bisa membantu atau memberikan solusi kepada rekan kita yang sedang menghadapi kendala usaha. Jika kita loyal dengan komunitas tersebut, maka hubungan kerjasama yang terjalin akan lebih baik, dan tentunya bisnis kita juga akan semakin berkembang.

5.    Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM)
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah suatu ilmu atau cara untuk mengatur hubungan dan peranan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif. Serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan (goal) bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal. MSDM didasari pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia - bukan mesin - dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis. Bidang sumber daya manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sisi pekerjaan dan sisi pekerja. Dari sisi pekerjaan terdiri dari analisis dan evaluasi pekerjaan. Sedangkan dari sisi pekerja meliputi kegiatan-kegiatan pengadaan tenaga kerja (seleksi), penilaian prestasi kerja, pelatihan (training), mengadakan seminar, promosi, kompensasi dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Dapat disimpulkan bahwa pentingnya manajemen sumber daya manusia di dalam mencapai tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.

Rabu, 28 Mei 2014

TUGAS 3



Konsep Penyesuaian Diri yang Sehat



Penyesuaian diri jika di liat dari Sudut Pandang Usaha Penguasaan (Mastery) yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi. Dengan kata lain, penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan, emosi, dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah. Hal itu juga berarti  penguasaan dalam memiliki kekuatan-kekuatan terhadap lingkungan, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan realitas berdasarkan cara-cara yang baik, akurat, sehat, dan mampu bekerja sama dengan orang lain secara efektif dan efisien, serta mampu memanipulasi faktor-faktor lingkungan sehingga penyesuaian diri dapat berlangsung dengan baik. Namun demikian, pemaknaan penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery) mengandung kelemahan, yaitu menyamaratakan semua individu. Padahal, kapasitas individu antara satu orang dengan yang lain tidak sama. Ada keterbatasan-keterbatasan tertentu yang dihadapi oleh individu.
Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut dengan istilah adjustment. Davidoff (Mujiono, 2010: 47), adjustment itu sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan. Penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan individu dalam menghadapi tuntutan-tuntutan, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan, sehingga terdapat keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dengan tuntutan lingkungan dan tercipta keselarasan antara individu dengan realitas.

Prinsip-prinsip penting mengenai hakikat penyesuaian diri, yaitu sebagai berikut:
1.      Setiap individu memiliki kualitas penyesuaian diri yang berbeda.
2.      Penyesuaian diri sebagian besar ditentukan oleh kapasitas internal atau kecenderungan yang telah dicapainya.
3.  Penyesuaian diri juga ditentukan oleh faktor internal dalam hubungannya dengan tuntutan lingkungan individu yang bersangkutan.
Dengan demikian, semakin tampak bahwa penyesuaian diri dilihat dari pandangan psikologis pun memiliki makna yang beragam. Hanya sedikit saja kualitas penyesuaian diri yang dapat diidentifikasi. Selain itu, kesulitan lain yang muncul adalah bahwa penyesuaian diri tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan semata-mata hanya menunjuk kepada cara bereaksi terhadap tuntutan internal atau situasi eksternal.
Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa atau mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesuaian diri dengan kondisi penuh tekanan. Sesuai dengan pengertiannya, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat individu hidup.
Semua makhluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, agar dapat bertahan hidup. Namun pada kenyataannya, banyak individu yang gagal dalam penyesuaian diri karena individu belum tentu tahu apa yang dinamakan dengan proses penyesuaian diri, selain itu individu tidak memiliki konsep penyesuaian diri dan tidak melakukan penyesuaian diri dengan baik. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan individu dalam menghadapi segala tantangan dan perubahan-perubahan yang akan terjadi nanti.
Pendidikan merupakan cara manusia menyesuaikan diri. Selama hidup manusia diharapkan dengan proses penyesuaian diri terhadap keadaan baru, perubahan suasana, kebutuhan baru dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman pahit dan manis menjadi suatu pelajaran bagi usaha penyesuaian diri. Agar anak didik pada usia selanjutnya mampu mengadakan penyesuaian diri secara layak dan sehat, ia harus memiliki kecakapan dasar dalam penyesuaian diri. Tindak kriminal, penyalahgunaan narkotika, seks bebas, aborsi dan tawuran adalah beberapa contoh dari kegagalan dalam penyesuaian diri terhadap tekanan dan frustrasi yang dialami dari lingkungan. Karena tuntutan dari kemiskinan yang dideritanya, seorang individu mampu melakukan tindak kriminal seperti mencuri, menodong bahkan membunuh. Begitu pula dengan perubahan yang dialami oleh seseorang dalam lingkungannya, perubahan tersebut akan menjadi sumber stres dan ia dituntut untuk menyesuaikan diri sehingga terbentuk kembali keharmonisan antara kebutuhan dirinya dan tuntutan lingkungan.
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Jika individu berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan bagi lingkungannya disebut penyesuaian diri dengan baik (well adjusted). Seandainya individu gagal dalam proses penyesuaian diri disebut (maladjusted). Atas dasar pengertian tersebut dapat memberikan gambaran bahwa penyesuaian diri itu penting bagi setiap individu dalam mencapai kebahagiaan hidup.

SUMBER :
eprints.uny.ac.id/9704/2/Bab 1 -08104241027.pdf 

Sabtu, 19 April 2014

TUGAS 2

Arti Penting Stress
J.P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stres sebagai satu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Hal senanda diungkapkan dalam Atkinson (1983), stres terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai  mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan, dan fisikal yang menyebabkan stres dinamakan stressor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinama respon stres, atau secara singkat disebut stres.
            Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005:481) “stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai”.
Baron dan Byrne (1997) menyatakan bahwa stres merupakan respon terhadap persepsi kejadian fisik atau psikologis dari individu sebagai sesuatu yang potensial menimbulkan bahaya atau tekanan emosional.
Selye (dalam Munandar, 2001) menyatakan bahwa stres adalah tanggapan menyeluruh dari tubuh terhadap setiap tuntutan yang datang atasnya. Jadi stres bersifat subyektif tergantung bagaimana orang tersebut memandang kondisi penyebab stress (stressor).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa stres merupakan setiap tekanan atau ketegangan yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang.


Jenis-Jenis Coping Stress
Menurut Lazarus (1996) coping stress adalah upaya kognitif dan tingkah lakuuntuk mengelola tuntutan internal dan eksternal yang khusus dan konflik diantaranya yang dinilai individu sebagai beban dan melampaui batas kemampuan individu tersebut.
Menurut Arthur Stone dan Jhon Neale (dalam Benjamin, dkk, 1987) terdapat 8 (delapan) kategori strategi coping stress, yaitu :
A. Direct action (tindakan langsung)
Individu memikirkan dan mencari pemecahan permasalahannya dan kemudianmelakukan sesuatu atau bertindak untuk menyelesaikan masalah tersebut.
B. Acceptance (penerimaan)
Individu mampu menerima kenyataan bahwa keadaan stres tersebut telahterjadi dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari masalah tersebut.
C. Destruction (pengacauan masalah)
Individu melibatkan diri pada aktivitas lain dan memaksakan diri untukmemecahkan masalah lain.
D. Situation redefenition (mendefenisikan ulang situasi)
Mendefenisikan situasi dengan memikirkan masalah dengan cara yangberbeda agar situasi stres tersebut menjadi dapat diterima.
E. Catharsis (katarsis)
Mencari pelepasan emosi sebagai alat untuk mengurangi ketegangan daristres.
F. Relaxation techniques (teknik relaksasi)
Merupakan cara untuk mengurangi tekanan yang dialami individu.
G. Social support (dukungan sosial)
Mencari dukungan sosial, misalnya dari teman, orang yang dicintai, psikologatau dari lingkungan masyarakat sekitar untuk mengurangi stres.
H. Religious strategy (strategi keagamaan)
Mencari ketenangan spiritual yang diperoleh dari teman, orang tua ataupemuka agama. Strategi ini dapat ditempuh dengan perilaku seperti berdoa.Berdoa diyakini dapat membuat individu mampu menghadapi berbagai situasiyang penuh tekanan.

Menurut Taylor (dalam Smet, 1994) ada 8 (delapan) jenis strategi coping stress, yaitu:
a. Konfrontasi, yaitu sikap agresif untuk mengubah situasi
b. Mencari dukungan sosial, yaitu suatu sikap untuk mendapatkan  kenyamananemosional dan informasi dari orang lain.
c. Merencanakan pemecahan masalah
d. Kontrol diri, adalah sikap untuk mengatur perasaan
e. Membuat jarak, adalah sikap untuk melepaskan diri dari situasi stress
f. Penilaian kembali secara positif (possitive appraisal), yaitu suatu     upaya untukmenemukan arti yang positif dari permasalahan yang dihadapi.
g. Menerima tanggung jawab dalam masalah peran
h. Melarikan diri/ menghindar (escape/avoidance), yaitu dengan cara makan,minum, merokok, dan memakai obat-obatan.

Strategi penanganan stres juga dapat digolongkan menjadi mendekat(approach) atau menjauh (avoidance). Strategi mendekat (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapinya secara langsung. Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres (Santrock, 1998) Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun metode coping stress yang dapat digunakan untuk semua situasi stres. Tidak ada strategi coping stress yang paling berhasil. Strategi coping stress yang paling efektif adalah strategi yang sesuai dengan jenis stres dan situasi (Smet, 1994). Keberhasilan coping stress lebih bergantung pada penggabungan strategi coping stress yang sesuai dengan ciri-ciri masing-masingkejadian yang mengancam, daripada mereka mencoba menemukan satu strategi coping stress yang paling berhasil.



Teori Kepribadian Sehat
1. Menurut Allport
Allport mengidentifikasi enam kriteria kepribadian yang sehat, antara lain:
a. Perluasan Perasaan diri
Pribadi yang matang terus mencari untuk dapat mengidentifikasi diri dan berpartisipasi dalam kejadian yang terjadi di luar diri mereka. Mereka tidak berpusat pada diri sendiri (self-centered) serta mampu untuk terlibat dalam masalah dan aktivitas yang tidak terpusat pada diri mereka. Mereka mengembangkan minat yang  tidak egosentris dalam pekerjaan, permainan dan rekreasi.
b. Hubungan yang hangat dengan orang lain
Mereka mempunyai kapasitas untuk mencintai orang lain dalam cara-cara yang intim dan simpatik dengan orang lain. Manusia yang sehat secara psikologis memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, serta menyadari bahwa kebutuhan, keinginan dan harapan orang lain merupakan hal yang tidak sepenuhnya asing dengan milik mereka sendiri.
c. Keamanan emosional atau penerimaan diri
Pribadi yang matang menerima diri mereka apa adanyadan memiliki keseimbangan emosional. Manusia yang sehat secara psikologis tidak akan menjadi terlalu sedih apabila terdapat hal-hal yang berjalan di luar rencana atau saat mereka hanya “mengalami hari yang buruk”
d. Memiliki persepsi yang realistis mengenai lingkungan disekitarnya
Mereka tidak hidup di dalam dunia fantasi atau membelokkan kenyataan agar sesuai dengan harapan mereka.
e. Insight dan humor
Mengenal dirinya sendiri, sehingga tidak mempunyai kebutuhan untuk mengatribusikan kesalahan dan kelemahannya kepada orang lain. Mereka juga mempunyai selera humor yang tidak kasar; yang memberikan mereka kapasitas untuk menertawakan diri mereka sendiri daripada bergantung pada tema-tema seksual atau kekerasan untuk membuat orang lain tertawa.
f.  Filosofi kehidupan yang integral
Manusia yang sehat mempunyai pandangan yang jelas mengenai tujuan hidup mereka. Tanpa pandangan tersebut, insight mereka akan menjadi kosong dan gersang serta akan memiliki humor yang dangkal dan sinis.

2. Menurut Carl Rogers
Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep dirimerupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat“. Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
1. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangandan kekacauan batin. Contoh : Ketika orang tua mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima.
2. Congruence berarti situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati. Contoh: jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan congruence-nya.

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positiveregard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard(bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
·         Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya(unconditional positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsisepenuhnya.
·         Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yangdicela, merasa bersalah dan tidak berharga.


Sumber:
Basuki,Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Penerbit Gunadarma
Feist, Jess danFeist, Gregory. 2010. TeoriKepribadian. Buku2. Jakarta: SalembaHumanika.